Hidup kadang seperti petani yang berharap menanti
hujan. Ketika awan gelap membumbung menutup langit, halilintar
menyambar-nyambar memecut bumi; ketakutan pun muncul. Padahal, di balik
gelapnya langit dan kilatan path, di situlah tercurah hujan.
Di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, pernah
terjadi gempa besar. Orang-orang panik. Korban pun berjatuhan. Beberapa
saat setelah kejadian itu, Khalifah menyampaikan pesannya. "Kalian suka
melakukan bid’ah yang tidak ada dalam Alquran, sunah Rasul, dan ijma
(kesepakatan umum) para sahabat Nabi, sehingga kemurkaan dan siksa
Allah turun lebih cepat." (Sunan Al-Baihaqi diriwayatkan dari Shafiyah
binti Ubaid)
Ucapan itu begitu menarik. Tanpa tedeng
aling-aling, beliau r.a. langsung menghubungkan antara bencana dengan
dosa orang sekitarnya. Bagaimana mungkin sebuah negeri yang masih banyak
dihuni para sahabat Rasul yang saleh; dipimpin oleh Umar yang begitu
dekat dengan Rasul; bisa mendapat bencana karena kemaksiatan.
Pesan Umar itu akan lebih terasa tajam jika
bencana terjadi pada diri umat saat ini. Tentu, dosa-dosa umat saat ini
jauh lebih besar dibanding zaman para sahabat Rasul. Di masa itu, nyaris
tidak ada kemusyrikan. Tidak ada perzinahan. Tidak ada korupsi dan
penindasan. Sementara di zaman ini, hampir semua potensi kebaikan
tercemari limbah nafsu duniawi.
Bencana menurut Umar bin Khaththab, walaupun di
sekelilingnya banyak orang saleh, terjadi karena pelanggaran terhadap
nilai-nilai ajaran Islam. Bencana adalah teguran Allah swt. agar
hamba-hambanya bisa kembali kepada kebenaran.
Di zaman Nabi Musa a.s., gempa juga dimaknai
beliau sebagai teguran berat. Tujuh puluh orang terpilih dikumpulkan
Nabi Musa untuk melakukan pertaubatan. Seperti itulah yang diungkapkan
Al-quran dalam surah Al-A’raf ayat 155 hingga 156.
"Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya
untuk (memohon taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan.
Ketika mereka ditimpa gempa bumi, Musa berkata, Ya Tuhanku, jika Engkau
kehendaki, tentulah Engkau binasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah
Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang
berakal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dariMu. Engkau sesatkan,
dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk
kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah pemimpin kami, maka
ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah pemberi ampun yang
terbaik.”
"Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini
dan dikhirat. Sungguh kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. (Allah)
berfirman, ‘Siksa-Ku akan aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki
dan; rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku
bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orangorang
yang beriman kepada ayat-ayat Kami." (QS. 7: 155-156)
Di masa Rasulullah saw. pernah terjadi bencana
wabah. Aisyah r.a. menanyakan soal wabah itu. Terutama, keadaan
orang-orang beriman yang terjebak di daerah bencana. Rasulullah saw.
mengatakan bahwa wabah tha’un merupakan siksa Allah yang
dikirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Tetapi, Allah
menjadikannya sebagai rahmat bagi para hamba-Nya yang beriman. Maka,
seorang mukmin yang berada di daerah yang kejangkitan wabah itu, jika
sabar dan ikhlas karena ia mengerti tidak akan terkena wabah itu kecuali
kalau memang sudah ditakdirkan Allah baginya, maka Allah akan mencatat
baginya pahala seorang mati syahid. (HR. Bukhari).
Bencana memang tidak akan pilih kasih. Apakah di
situ ada orang saleh atau penikmat maksiat. Semua akan kena. Semua akan
merasakan kedahsyatannya. Cuma bedanya, orang kafir merasakannya sebagai
azab. Sementara orang mukmin sebagai rahmat Allah swt. Dengan catatan:
sabar dan ikhlas.
Namun, Allah swt. mengingatkan agar orang-orang
beriman berupaya keras melakukan perbaikan. Seorang mukmin tidak
dibenarkan membiarkan kemaksiatan membudaya di lingkungannya. Karena
ketika siksa datang, siapa pun akan terkena kedahsyatannya. Termasuk
orangorang yang beriman.
Allah swt. mengingatkan hal itu dengan sebutan
fitnah. Firman Allah, swt. dalam surah Al-Anfal ayat 25, "Dan
peliharalah dirimu dari fitnah (siksaan) yang tidak hanya menimpa
orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah
sangat keras siksa-Nya."
Fitnah memang punya beberapa arti. Ia bisa berarti
siksaan seperti tersebut di surah ke-85 ayat 10. Fitnah juga berarti
ujian seperti di surah ke-29 ayat 2 dan 3: Juga berarti kemusyrikan,
dalam surah ke-8 ayat 39, dan lain-lain..
Ketika bencana sudah terjadi,besar atau kecil,
seorang mukmin harus bersikap positif. Ia tidak mengeluh, apalagi
menggugat: Allah tidak adil!" (QS. 89: 15-16)
Selalu saja, semua yang Allah turunkan termasuk
juga bencana akan punya hikmah. Ada pelajaran di balik penderitaan
seorang mukmin. Di sana ada ampunan, teguran, solidaritas, juga
pendidikan kesabaran dan keikhlasan. Wallahu’alam
http://beranda.blogsome.com/2008/07/02/hikmah-dibalik-bencana/

0 komentar:
Posting Komentar