Jiwa Besar = Jiwa Pemberi
“Tangan diatas (penginfak/pemberi) itu lebih baik dan lebih mulia daripada
tangan dibawah (peminta) (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
“Mereka (orang-orang yang bertaqwa itu) adalah orang-orang yang selalu berinfak
(memberi), baik saat senang atau lapang maupun kala susah atau sempit” (QS. Ali
‘Imraan [3]: 134).
“Adapun barang siapa yang memberi, bertaqwa dan membenarkan balasan terbaik
(Surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan/kebahagiaan”
(QS. Al-Lail [92]: 5-7).
“Sedangkan barang siapa yang kikir (enggan memberI), congkak karena merasa
tidak butuh (kepada rahmat Allah), dan mendustakan balasan terbaik (Surga),
maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran/kesengsaraan (QS.
Al-Lail [92]: 8-10).
Maka jiwa besar itu adalah jiwa pemberi. Sedangkan jiwa kerdil adalah jiwa
peminta-minta kecuali kepada Allah Ta’ala. Dan semua kita bebas memilih untuk
berjiwa besar atau bermentalitas kerdil.
Namun agar seseorang bisa berjiwa besar dan bermentalitas pemberi,
diperlukan untuknya dasar keimanan yang baik, kesadaran yang memadai dan
pembiasaan diri yang cukup.
Sementara itu perlu dipahami dan disadari benar bahwa, dalam kaedah fiqih
pemberian, yang terpenting itu bukanlah apa dan berapa kadar yang diberikan.
Melainkan seikhlas apa hati seseorang saat memberikan apapun yang dipunyainya.
Sebagaimana
penting sekali selalu diingat bahwa, setiap pemberian, apapun bentuknya dan
seberapapun kadarnya, bisa bernilai sedekah tinggi, termasuk dengan sekadar
memberikan senyuman cerah, sapaan ramah atau kata-kata yang mengarah dan
menggugah.
Dan satu kaedah lagi yang sangat penting diingat dan disadari bahwa, jika
kita telah ikhlas, jujur dan sungguh-sungguh memilih jalan hidup untuk berjiwa
besar dengan menjadi pemberi, maka kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa,
Allah pasti menjamin untuk selalu menyediakan apa-apa yang harus dan laik kita
berikan.
Dan sebagai penutup, jangan lupa pula kaedah ini. Yaitu bahwa, saat dalam
kondisi dan situasi leluasa memilih, sebisa mungkin utamakan dan
prioritaskanlah selalu bentuk-bentuk atau jenis-jenis pemberian yang bernilai
istimewa, yakni yang memperhatikan, mempertimbangkan, dan memadukan antara
kemampuan yang ada dan kebutuhan penerima.
Wallahul Muwaffiq ila aqwamith-thariq, wa Huwal Hadi ila sawa-issabil.
sumber : http://ustadzmudzoffar.wordpress.com

0 komentar:
Posting Komentar